Hehe. Langsung mulai ya dari ini:
Gimana akun
ini bisa sebegitu brutal?
Dan dari
satu tweet yang ditulis sama si anak baru ini (cih…) saya jadi kepikiran lagi,
bahasa kerennya sih flashback.
Kayaknya
sih saya sering nulis ini, Akun mypd itu berawal dari rasa marah. Emosi yang
sebenernya bisa dibilang kekanakan, yang akhirnya berujung ke tindakan yang
lebih kekanakan lagi, bikin akun anonim.
Iya, marah.
Saya marah, dengan kelakuan anak rp yang kebetulan punya followers lebih banyak
dari rata rata. Ya tahulah, pikiran pikiran emosional semacam “bah, followers
diatas rata rata saja lagaknya bagai bos saja” itu yang mendorong saya untuk “mengkritik”
mereka secara brutal. Mereka bisa ngomong seenaknya, memang saya tidak bisa?
……..tapi ya
begitulah, kritikan brutal saya hanya terdampar di whatsapp, di tab chat saya
dan si betina. Saya waktu itu sadar diri, mengkritik brutal secara langsung ke ‘mereka’
itu semacam social suicide. Dan saya masih ingin bermain rp.
Sebenarnya
si betina juga sudah usul berkali kali biar saya membuat akun anonim buat
menghajar bocah bocah itu. Ya bahkan RPW 2012 pun sudah punya akun bash anonim,
makanya saya menolak usul si betina. Saya tidak sama dengan akun-akun bash
anonim itu, yang sebenarnya hanya memperparah perilaku rp-rp tadi. Mereka pikir
dengan hinaan dan kata-kata kasar, itu mengubah perilaku orang lain? Yang ada
orang awam simpati dengan mereka, mereka jadi merasa kuat, kelakuan makin
parah. Ketahuan saja akun bash dengan kata-kata kasar itu hanya wujud dari
nafsu emosi saja. Intinya? si rp senga dan pembencinya sama saja.
Tapi
akhirnya saya buat juga akun yang akhirnya saya beri nama MYPD. “Menghina Yang
Pantas Dihina” tapi bisa juga dibuat edisi melankolis “Merindukan Yang Pasti
Disana”. Entah waktu itu saya sangat kreatif atau hanya alay, whatever.
Sekian
flashbacknya.
Sekarang
enaknya membahas topik dari kalimat ini, “sebenarnya sia-sia kan ada akun MYPD?
nyatanya juga tidak banyak yang berubah”
Semuanya
juga tahu kan kalau perubahan itu dimulai dari diri sendiri? Kalian punya kuasa
penuh atas semua yang dilakukan. Termasuk berubah. Saya tidak pernah memaksa
untuk berubah, paling hanya meminta atau mengajak dengan cara yang
berubah-ubah, termasuk menyindir atau mengkritik. Lebih ke mengajak, karena
saya sendiri juga ingin berubah menjadi yang lebih baik.
“Jangan
ngejudge orang kalau diri sendiri belum benar” / “jangan sok bijak seakan sudah
paling benar”
Saya sering
sekali menemukan kalimat ini di kotak mention, di email, pokoknya dimana mana
sejauh itu ditujukan untuk saya.
Ya memang
tidak boleh judging orang sembarangan. Sayangnya maksud kalimat diatas itu
hanyalah menyuruh saya diam. Dan saya bisa menuliskan seribu alasan kenapa
kalimat itu bisa saya salahkan.
Ampun saja lah,
kalimat itu sendiri adalah ironi! Dengan berkata seperti itu anda seperti
menunjukkan bahwa anda jauh lebih baik dari saya. Mungkin memang iya, tapi bisa
saja tidak. Saya tidak menyombongkan diri, tapi memang nyatanya kita tidak tahu
kualitas masing masing kan.
“Kenapa sih
orang banyak yang gila followers? padahal sukses nggak harus punya banyak
followers di twitter”
Sekarang
coba diamati ya potongan lirik dari lagu Demons milik Imagine Dragons.
“No
matter what we breed, We still are made of greed”
sebenernya lagu ini secara keseluruhan bisa dibilang “dalem”.
Sedalem apa? Sedalem kamu menyimpan masa lalu kamu, jadi aku nggak bisa deketin
kamu.. eh maaf, salah fokus.
Tapi sekarang kita potong aja lirik ini, lagunya keseluruhan
diabaikan saja. Cuma kalimat ini saja.
Intinya, manusia itu serakah. Saya juga tidak mau munafik,
saya juga senang sih kalau punya followers banyak. Tidak hanya saya, lihat saja
reaksi Matthew Koma saat followers twitternya mencapai angka 100K. Tapi
bagaimanapun juga, lebih mengesankan followers banyak hasil dari tweet yang
bermutu daripada hasil semacam #teamfollowback atau #openfollow atau mention
orang orang ribuan kali “follback dong?”
Jadi daripada menjadi “gila followers” dengan serangkaian
cara menyedihkan seperti di atas, lebih baik meningkatkan kualitas tweet,
lagipula tidak salah kok tweet yang bermutu, yang baca juga enak.
Oh ya, nih, contoh gila followers dari hasil RT-an MYPD
beberapa waktu lalu.
Banyak kok RPs seperti ini, yang menyedihkan sih tweetnya
ternyata tinggal bot. Saran sih, rp seperti ini mending di unfollow saja kalau
kamu tidak suka spamming bot, meskipun dia memakai bot berita (sebenarnya itu
lebih mengganggu buat saya sih).
Sebenarnya, main unfollow secara brutal ini untuk apa sih?
