24.3.14

Karena sudah ditagih untuk update blog



Hehe. Langsung mulai ya dari ini:



Gimana akun ini bisa sebegitu brutal?
Dan dari satu tweet yang ditulis sama si anak baru ini (cih…) saya jadi kepikiran lagi, bahasa kerennya sih flashback.
Kayaknya sih saya sering nulis ini, Akun mypd itu berawal dari rasa marah. Emosi yang sebenernya bisa dibilang kekanakan, yang akhirnya berujung ke tindakan yang lebih kekanakan lagi, bikin akun anonim.
Iya, marah. Saya marah, dengan kelakuan anak rp yang kebetulan punya followers lebih banyak dari rata rata. Ya tahulah, pikiran pikiran emosional semacam “bah, followers diatas rata rata saja lagaknya bagai bos saja” itu yang mendorong saya untuk “mengkritik” mereka secara brutal. Mereka bisa ngomong seenaknya, memang saya tidak bisa?
……..tapi ya begitulah, kritikan brutal saya hanya terdampar di whatsapp, di tab chat saya dan si betina. Saya waktu itu sadar diri, mengkritik brutal secara langsung ke ‘mereka’ itu semacam social suicide. Dan saya masih ingin bermain rp.
Sebenarnya si betina juga sudah usul berkali kali biar saya membuat akun anonim buat menghajar bocah bocah itu. Ya bahkan RPW 2012 pun sudah punya akun bash anonim, makanya saya menolak usul si betina. Saya tidak sama dengan akun-akun bash anonim itu, yang sebenarnya hanya memperparah perilaku rp-rp tadi. Mereka pikir dengan hinaan dan kata-kata kasar, itu mengubah perilaku orang lain? Yang ada orang awam simpati dengan mereka, mereka jadi merasa kuat, kelakuan makin parah. Ketahuan saja akun bash dengan kata-kata kasar itu hanya wujud dari nafsu emosi saja. Intinya? si rp senga dan pembencinya sama saja.
Tapi akhirnya saya buat juga akun yang akhirnya saya beri nama MYPD. “Menghina Yang Pantas Dihina” tapi bisa juga dibuat edisi melankolis “Merindukan Yang Pasti Disana”. Entah waktu itu saya sangat kreatif atau hanya alay, whatever.
Sekian flashbacknya.
Sekarang enaknya membahas topik dari kalimat ini, “sebenarnya sia-sia kan ada akun MYPD? nyatanya juga tidak banyak yang berubah”
Semuanya juga tahu kan kalau perubahan itu dimulai dari diri sendiri? Kalian punya kuasa penuh atas semua yang dilakukan. Termasuk berubah. Saya tidak pernah memaksa untuk berubah, paling hanya meminta atau mengajak dengan cara yang berubah-ubah, termasuk menyindir atau mengkritik. Lebih ke mengajak, karena saya sendiri juga ingin berubah menjadi yang lebih baik.
“Jangan ngejudge orang kalau diri sendiri belum benar” / “jangan sok bijak seakan sudah paling benar”
Saya sering sekali menemukan kalimat ini di kotak mention, di email, pokoknya dimana mana sejauh itu ditujukan untuk saya.
Ya memang tidak boleh judging orang sembarangan. Sayangnya maksud kalimat diatas itu hanyalah menyuruh saya diam. Dan saya bisa menuliskan seribu alasan kenapa kalimat itu bisa saya salahkan.
Ampun saja lah, kalimat itu sendiri adalah ironi! Dengan berkata seperti itu anda seperti menunjukkan bahwa anda jauh lebih baik dari saya. Mungkin memang iya, tapi bisa saja tidak. Saya tidak menyombongkan diri, tapi memang nyatanya kita tidak tahu kualitas masing masing kan.
“Kenapa sih orang banyak yang gila followers? padahal sukses nggak harus punya banyak followers di twitter”
Sekarang coba diamati ya potongan lirik dari lagu Demons milik Imagine Dragons.
No matter what we breed, We still are made of greed”
sebenernya lagu ini secara keseluruhan bisa dibilang “dalem”. Sedalem apa? Sedalem kamu menyimpan masa lalu kamu, jadi aku nggak bisa deketin kamu.. eh maaf, salah fokus.
Tapi sekarang kita potong aja lirik ini, lagunya keseluruhan diabaikan saja. Cuma kalimat ini saja.
Intinya, manusia itu serakah. Saya juga tidak mau munafik, saya juga senang sih kalau punya followers banyak. Tidak hanya saya, lihat saja reaksi Matthew Koma saat followers twitternya mencapai angka 100K. Tapi bagaimanapun juga, lebih mengesankan followers banyak hasil dari tweet yang bermutu daripada hasil semacam #teamfollowback atau #openfollow atau mention orang orang ribuan kali “follback dong?”
Jadi daripada menjadi “gila followers” dengan serangkaian cara menyedihkan seperti di atas, lebih baik meningkatkan kualitas tweet, lagipula tidak salah kok tweet yang bermutu, yang baca juga enak.
Oh ya, nih, contoh gila followers dari hasil RT-an MYPD beberapa waktu lalu.


Banyak kok RPs seperti ini, yang menyedihkan sih tweetnya ternyata tinggal bot. Saran sih, rp seperti ini mending di unfollow saja kalau kamu tidak suka spamming bot, meskipun dia memakai bot berita (sebenarnya itu lebih mengganggu buat saya sih).
Sebenarnya, main unfollow secara brutal ini untuk apa sih?

1 komentar:

Esya Kusumaning Tyas mengatakan...

duh saya agak bete juga liat foto yg om pasang. kenapa orang macam itu harus mainin karakter chorong, ya. huh.